Assalammu'alaikum,,,Irasshaimase,Wilujeng Sumping, Selamat datang ^_^

Rabu, 13 Oktober 2010

The Cove.... (Foto diambil dari redflagmagazine.com, tulisan beberapa dikutip dari Wikipedia & Makalah * )

Sekedar berbagi… maaf jika loncat2..tidak runut dalam memaparkannya

Film documenter yang satu ini really touching. Menyadarkan saya akan banyak hal akan. Lumba2 yang kisahnya menyedihkan, hingga tentang kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Dimulai dengan Cerita tentang lumba2 yang berada di daerah Taiji (berada distrik hashigimuro wakayama Japan). Baru tau kalau lumba2 yang ada di planetarium seluruh dunia atau tempat2 wisata yang ada atraksi lumba2 itu semuanya di datangkan dari Taiji. Nah, mungkin kita atau bahkan saya terutama baru tau kalo lumba2 yang ada di tempat yang saya sebutkan diatas itu, ternyata setiap hari di beri obat penenang alias obat stress meureun nya? :D
Awalnya seh ga ngerti dan bertanya2 kenapa lumba2 ko dikasih obat penenang? Ternyata jawabannya adalah…lumba2 peka terhadap suara. Kemampuan ultrasonic yang mereka miliki berfungsi untuk menghindarkan marabahaya yang ada di depan mereka. Dengan gelombang tersebut mereka jadi bisa memperkirakan jika jalan yang akan mereka lalui atau di sekitar mereka ada batu karang ,kapal atau pun benda2 asing lainnya. Lalu ketika banyak sekali suara di sekeliling mereka menjadi bingung untuk menentukan arah datangnya bahaya …so kebayang dunk gimana stress nya mereka saat riuh rendah suara tepuk tangan penonton. Nampak diluar fine2 aja..ceria beria…mahluk bersahabat, suka menolong dan menarik simpati manusia melalui atraksinya yang lucu. OMG manusia pikir2 serakah banget ya?? Dah lumba2 diekploitasi…eh dijadikan komoditi juga. Terbukti dengan daging yang dijual untuk kemudian di konsumsi . Dipasarkan around the world..Can U image that? Hidoi (kejam, sadis)!! Kalo kata Chibi Maruko chan ^^v Oh ya sedikit bercerita dari ensiklopedi Wikipedia yang saya baca tentang Taiji, berada di distik hashigimuro wakayama jepang, menurut data 2007 berpenduduk 3.444 dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 577.85 per kilometer persegi. Selain itu ini ada sedikit kutipan yang saya ambil msih dari sumber yang sama
“Taiji was primarily known as a whaling town. Japanese traditional whaling techniques were dramatically developed here in the 17th century, and the commercial hunting of dolphins remains a major source of income for its residents to this day.[2] Wada Chūbei organized the group hunting system (刺手組) and introduced new handheld harpoon in 1606. Wada Kakuemon, later known as Taiji Kakuemon, invented the whaling net technique called Amitori hō (網取法) to increase the safety and efficiency of whaling. This method lasted more than 200 years.
The town was dealt a massive blow in 1878 when an accident during a hunt claimed more than 100 lives, which resulted in the collapse of the group hunting system.[3] Taiji's whaling industry became buoyant again after the Russo-Japanese War as it became a base for modern whaling. When the Antarctic whaling started, Taiji provided crews for the whaling fleet.[4] In 1988, Taiji suspended their commercial whaling as a result of an IWC ruling.
The town continues the hunting of small whales as well as dolphins which is not regulated by the IWC. [5] “

Traditional Whaling in Taiji, depicted in a maki-e in the Edo period
Jadi bisa disimpulkan bahwa perburuan terhadap lumba2 sudah ada sejak dahulu kala, sehingga sudah menjadi bagian dari budaya kemudian berkembang menjadi sumber pendapatan daerah serta masyarakat sekitar. Hingga muncullah industri yang meramaikan daerah tersebut. Nah buangan industry ini menghasilkan salah satunya “MERKURI” Merkuri ini kemudian bergabung dengan biota laut dan akhirnya seperti tulisan yang saya kutip ini …semoga bisa jadi bahan renungan

Di kutip dari (© 2003 Achmad Budiono /Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor /November 2002/ Posted 11 January 2003
Achmad Budiono Nrp. C 5260140314 E-mail :brdolero@yahoo.com )
PENGARUH TOKSISITAS MERKURI PADA IKAN
Seperti peristiwa yang terjadi di Jepang, dimana penduduk disekitar teluk Minamata keracunan methyl merkuri akibat hasil buangan dari sutu pabrik plastik. Methyl merkuri yang terdapat dalam ikan
termakan oleh penduduk disekitar teluk tersebut. Ikan-ikan yang mati disekitar teluk
Minamata mempunyai kadar methyl merkuri sebesar 9 sampai 24 ppm.
Faktor-faktor yang berpengaruh di dalam proses pembentukan methyl merkuri
adalah merupakan faktor-faktor lingkungan yang menentukan tingkat keracunannya.
Merkuri yang diakumulasi dalam tubuh hewan air akan merusak atau menstimuli sistem
enzimatik, yang berakibat dapat menimbulkan penurunan kemampuan adaptasi bagi
hewan yang bersangkutan terhadap lingkungan yang tercemar tersebut. Pada ikan, organ
yang paling banyak mengakumulasi merkuri adalah ginjal, hati dan lensa mata
(LELAND, et al 1975) di dalam SANUSI (1980).
Menurut HARRIS (1971) di dalam SANUSI (1980) pengaruh pencemaran
merkuri terhadap ekologi bersifat jangka panjang, yaitu meliputi kerusakan struktur
komunitas, keturunan, jaringan makanan, tingkah laku hewan air, fisiologi, resistensi
maupun pengaruhnya yang bersifat sinergisme. Sedang pengaruhnya yang bersifat linier
terjadi pada tumbuhan air, yaitu semakin tinggi kadar merkuri semakin besar pengaruh
racunnya.
WIDODO (1980) mengatakan bahwa
akumulasi merkuri dalam tubuh biota laut juga terpusat pada organ tubuh yang berfungsi
untuk reproduksi, sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan biota
laut terutama di dalam mengembangkan keturunannya.
Untuk mengevaluasi pengaruh toksisitas merkuri terhadap manusia, OECD
(1974) di dalam SANUSI (1980) menentukan konsep yang disebut ADI (Acceptable
Daily Intake) untuk merkuri, yaitu intake merkuri oleh manusia yang diperbolehkan per
hari. Konsep tersebut dinyatakan :
1. Jika intake merkuri ( dalam bentuk methyl merkuri) sebesar 0,3 mg per hari, maka
merkuri akan tertinggal dalam darah manusia sebesar 0,2ug. Kadar setinggi itu akan
dapat mengakibatkan keracunan (clinical symptons). Karenanya dianjurkan ADI
sebesar 0,03 mg per hari.
2. Jika tubuh ikan atau hewan mengandung 1 ppm merkuri dalam bentuk total inorganik
merkuri, maka manusia dilarang makan daging ikan atau hewan tersebut melampaui
2.0 gram per minggu.zat beracun yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem organ biota laut Tapi yang menjadi masalah selanjutnya adalah perburuan tersebut menganggu ekosistem yang ada.
Kesimpulannya sebenarnya apa yang diungkapkan film ini antara lain lebih pada penyadaran akan pentingnya penjagaan ekosistem biota laut. Seperti yang kita tahu jika ekosistem terkait dengan rantai makanan. Sebagai produsen hingga istilahnya pengguna akhir daam hai ini manusia ..dampaknya begitu serius ..hingga kematian perlahan dimulai dengan gangguan sisten saraf seperti pancaindra, hati , ginjal dsb…so??? Yuk kita mulai belajar untuk berharmoni dengan alam … menghargainya dengan menjaga dan melestarikannya demi masa depan anak cucu kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar