Assalammu'alaikum,,,Irasshaimase,Wilujeng Sumping, Selamat datang ^_^

Kamis, 28 Oktober 2010

Ogah punya istri "aktivis"? ...hehe :D


Hm..gatel ga komenin thread di forum jadinya bikin tulisan deh :D Cuma sekedar menuangkan apa yang ada di kepala..hehe. “Istri aktivis? Ogah ah…” berikut ini opini saya :

1. Kenapa harus takut? Saya yakin wanita sholehah tau benar perannya sebagai istri,dan ibu bagi keluarganya kelak. Sudah seharusnya juga mampu membagi peran, memilih skala prioritas dan mengukur diri tentunya :) Melakukan pendekatan, kompromi, negosiasi dan berbagi peran dengan pasangannya kelak.

2. Menurut teman saya yang mengadakan penelitian mengenai korelasi antara ibu yang "aktivis" dengan kualitas atau pola pengasuhan anak (pendidikan) ditemukan kurangnya signifikansi antara ke"aktivisan"nya dengan kualitas pendidikan/pola asuh asak :) based on true stories teman saya bercerita bahwa tidak sedikit ibu yang dekat secara fisik namun tidak bisa “meng-edukasi” anak2nya dengan tepat dan benar…ibu nonton telenove..anak dicuekin. Tidak sedikit pula Ibu/istri yang bekerja seperti halnya temanku yang berprofesi sebagai entrepreneur muslimah, daiyah,psikolog,dokter puskesmas, ibu..saling bahu membahu bersama pasangannya mendidik anak2 mereka agar menjadi keturunan yg shalih/ah..contohnya ada di depan mataku sendiri…bagaimana anak2 mereka saling mengajari satu sama lain..saling belajar, kakak mengajarkan adiknya mengaji ..lalu sore dan malam adalah waktu yang ditunggu2 karena bundanya bersama mereka..berlomba menceritakan apa2 saja yanag dilakukannya selama seharian ini…belajar mengekspresikan apa yang dirasa pada sang bunda, bagaimana ia mengajari adiknya, bagaimana hari ini disekolah…

Bahkan sekaliber ibu Yoyoh (ustdzah terkenal yang aktivis banget) memberikan contoh kedewasaan pada rumah tangga yang dibangun..pernah dengar kan kisah beliau??bagaimana beliau mendidik anak2nya..katanya putranya yang sulung sangat mandiri banget, smp sudah menjadi entrepreneur, psikologinya matang padahal baru smp…kalo kata orang psikolog ciri kedewasaan seseorang itu terlihat dari komitmen…dan respontibility…*hehe jadi kemana2* muuph :D

3. Ngerasa sayang ga sih dengan segala potensi yang dimiliki oleh istrinya? Misal sebelum menikah itu aktivis banget dah…bukankah banyak hal yang bisa dilakukan tanpa mengabaikan keluarga?Benar memang ibu dadalh madrasah pertama bagi anak2nya kelak! Benar memang bahwa suami pun butuh istri disampingnya tapi bukankan ada banyak cara yang dapat dilakukan sebagai ladang mal keduanya? seorang istri insya Allah bisa mendapatkan pahala dengan misal ; bikin TPA, buka bisnis home made ..apalah namanya ,bkin play group dirumah, atau buka bimbel or konsultan apalah…karena kejarannya akhirat..bukan semata untuk nyari profit :) sedang suami mendapatkan pahala karena keihlasannya memberikan ladang amal pada sang istri untuk berkontribusi tidak hanya pada keluarga kecilnya saja? namun syukur bermanfaat untuk orang lain..

4. Trus jika kita mau berkaca pada Bunda Khadijah..bukankah beliau seorang aktivis? “entrepreneur muslimah?” tapi kita lihat bagaimana kehidupannya begitu indah dengan rasulullah…?? Support luar biasa beliau berikan pada rasul…Lalu bagaimana dengan Aisyah RA sang ummul muslimin? Bukankah beliau juga sangat cerdas, aenjadi rujukan hadits para sahabat dan kaum muslimin? Atau mengajarkan banyak hal bagi kaum muslimin?

5. Bukankah seharusnya ketika mendapatkan istri yang “aktivis” energi yang didapat seharusnya menjadi berlipat2?? Kalo selama ini satu, sekarang 1+1 = bisa jadi hasil penjumlahannya adalah 4. 10, 7 , 20 dll

Intinya baik AKTIVIS atau BUKAN itu dikembailikan ke individu masing2 ..take it or leave it…

Bersediakah memberi peluang ladang amal?

Saat wanita memilih menjadi “aktivis” maka perlu benar ditanamkan dalam hati akan kelurusan niat hanya untuk mencari cinta dan keridhaan-Nya. Bukan semata ingin terkenal, menyaingi suami baik salary maupun popularitas. Namun, lebih pada pengoptimalan potensi dan keilmuan yang Allah sudah beri padanya. Jika semua berpikir "tak usah sajalah istri aktif dalam kegiatan2 sosial" lalu siapa yang akan memikul beban dakwah ini?karena ada hal2 yang itu butuh "campur tangan wanita" meski mungkin dengan kontribusi yg sedikit dan tak berarti...Wallahu’alam bishshowab

Sumber foto : ekonomi.kompasiana.com

Bandung, 28 Oktober 2010

3 komentar:

  1. Hmmm, boleh2..., like this..

    BalasHapus
  2. K Dimas : kayak lagu aja ..insya Allah..hehe :D
    K Qefy : thanks komennya :D

    BalasHapus